JUST BE HONEST, GIRL


Hampir satu minggu Mila berada di sekolah barunya. Namun ia hanya memiliki seorang teman, yaitu Rani, teman sebangkunya yang setia membantunya dalam segala hal. Rani mengajak Mila ke kantin pada jam istirahat. Sambil mengobrol, Rani memperkenalkan siswa siapa saja yang menjadi sorotan di sekolah ini.

”Termasuk mereka” tunjuk Rani pada segerombolan siswa cewek cantik yang sedang asyik ngobrol dengan teman-teman cowok.

”Mereka sangat menganggap penting status orang tua kamu. Apa pekerjaannya? Berapa banyak gaji per bulan? Kalau liburan biasanya ke negara mana, dan banyak lagi.

”Ck..ck..ck. ya ampun ada ya orang kayak mereka” Mila menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Kamu hati-hati aja, Mil. Mending diam daripada kita bersuara tapi selalu kena omelan mereka.

”Ng? Kenapa emang?”

”Bagi mereka nggak ada omongan yang bener kecuali dari omongan mereka sendiri”

Mila melirik ke arah cewek-cewek cantik nan populer itu dan seketika, Luna, yang dianggap sebagai ’leader’ dalam geng tersebut juga melirik tajam ke arah Mila.

Hari ini Rani nggak masuk sekolah. Jadi Mila hanya seorang diri kemanapun ia pergi. Kabarnya Rani sakit demam dan Mila berjanji akan menjenguknya pulang sekolah nanti.

”Hai, boleh gue duduk disini?”

”Emm..boleh..boleh” Mila kaget melihat sosok ganteng yang ada di depannya sekarang.

”Gue Rei” menjabat tangan Mila yang terasa dingin.

”Aku Mila”

Rei gampang sekali menjadi akrab dengan Mila. Mila juga senang karena mendapat seorang teman lagi. Ternyata Rei adalah cowok yang dianggap cukup populer di sekolah, oleh karena itu banyak pula cewek-cewek yang jealous melihat Rei lebih memilih duduk di depan Mila. Termasuk Luna.

”Hei Rei. Cewek baru lo ya?”

”Eh Luna. Ah bisa aja lo. Nggak lah. Ini Mila anak baru”

”Hai Mila” menjabat tangan Luna yang mulus sekali. Terlihat sekali ia nggak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, seperti mencuci piring, mencuci baju, dan lain-lain.

”Halo Mila. Gue Luna. Yah lo mungkin udah kenal lebih dulu sebelum gue kenalin diri sama lo” Luna menjabat tangan Mila dengan gaya centilnya.

”Oh ya, bonyok lo kerja apa?”

”Emm..Ng..kalau Papa nggak di Jakarta. Papa kerja di Ausie sebagai direktur salah satu perusahaan.

”Waw. Terus nyokap?” wajah Luna tersenyum sumringah.

”Kalau Mama sih desainer. Baju-bajunya sering dikirim ke berbagai negara”

”Hebat dong..kapan-kapan gue boleh ya mampir ke rumah lo”

”I..ya” Mila mengangguk tampak ragu.

Rei merasa dikacangi sedair tadi, karena Luna mengajak Mila mengobrol terus. Padahal Rei ingin mengenal lebih dalam lagi tentang Mila.

”Hallooou..Luna. disini juga ada Rei. Tega lo ya cuekin makhluk ganteng sendirian”

”Oh iya sayang. Maaf aku lupa kalau ada kamu” jawab Luna dengan lembut. Tepatnya sok romantis.

”Kalian pacaran ya?” tanya Mila disela-sela obrolan mereka.

”Ih, nggak mungkin lah Mil. Luna udah punya cowok. Itu yang namanya Erol. Kenapa?”

”Oh, nggak apa-apa. Kok kayaknya mesra banget”

”Luna aja yang sok mesra. Dia dari dulu ngejar-ngejar gue, tapi selalu gue tolak. Iya nggak say?” ejek Rei dengan menggoda Luna. Langsung Luna seperti tertebak perasaannya. Karena memang begitu kenyataannya. Dari awal Luna suka sama Rei. Tapi Rei nggak pernah respon dengannya.

”What? Jangan gila dong!” sontak Luna menjadi sewot.

”Udah ah, jangan ganggu orang pacaran deh. Sana..sana, ditungguin Erol tuh” Rei mengusir bercanda dengan Luna. Mila menunduk malu mendengar Rei mengatakan seperi itu.

Semenjak itu Mila menjadi banyak teman. Segerombolan cewek-cewek populer-lah yang kini dekat dengannya. Terlebih lagi Rei telah menembaknya minggu lalu. Lengkap sudah kebahagiaan Mila. Hingga Rani, teman sebangkunya yang dulu selalu menemaninya kemanapun telah ia campakkan.

Namun, satu hal yang membuat Mila khawatir. Ia takut jika status orangtuanya yang palsu itu akan terungkap. Sebenarnya orang tua Mila bukanlah seorang direktur perusahaan dan desainer terkenal. Mila malu mengatakannya di depan Luna dan Rei waktu itu.

”Sayang, aku anter kamu sampai rumah ya” pinta Rei pada Mila. Karena selama ini jika Rei mengantar hanya sampai di pinggir jalan saja.

”Oh, nggak usah Rei, sampai sini aja” Mila menjawab tergagap. Entah apa yang dipikirkannya sekarang. Ia hanya takut jika Rei tahu kondisi rumahnya yang sebenarnya.

”Ya udah deh. Hati-hati ya. Nanti aku telpon kalau uda nyampe rumah. Bye”

Setiap pagi Luna selalu menyempatkan diri untuk berolahraga. Katanya sih untuk menjaga kelangsingan tubuhnya. Biasanya Luna melewati jalan-jalan sepi dan pasar. Pasar sudah tampak ramai pagi-pagi buta begini. Luna berusaha untuk lebih menepi agar jalannya tidak terganggu. Tapi tetap saja ada yang tak sengaja menabraknya.

”Aduh, hati-hati dong jalannya. Jadi kotor kan?” Luna mengaduh kesakitan sambil pasang muka cemberutnya.

”I..Iya. maaf banget ya”

”Lho..Mila? Iya kan lo Mila? Ngapain disini, kok mau sih main ke tempat kotor kayak gini?”

”Ng..anu. Luna..Aku..Cuma..” Mila nggak tahu harus ngomong bagaimana. Sungguh ia bingung banget.

”Ya ampun, Mil, kok bisa jatuh semua gini sayurnya? Ini temen Mila ya? Saya ibunya Mila”

Deg!

”Apa?” Luna terkejut mendengarnya. Ia langsung berlari meninggalkan Mila dan ibunya. Shock sekali Luna mengetahui hal sebenarnya tentang sosok Mila. Dan ia pun segera menghubungi Rei, pacar Mila.

”Ah, yang bener, Lun? Lo nggak baru bercanda kan?” kata Rei diseberang telpon sana yang tak percaya dengan ucapan Luna.

”Beneran Rei. Buat apoa sih gue bohong?” Luna ngotot meyakinkan Rei.

Suasana dan kondisi sekolah sekarang berbeda. Pasca Hari Minggu kemarin Luna sudah mengetahui apa status keluarga Mila. Yang pasti bukan keluarga orang terpandang yang selama ini ia kira. Luna pun memberitahukan kebohongan ini kepada teman-teman dalam geng cewek populer. Mereka juga kaget dan awalnya nggak percaya. Kini Mila seperti kembali ke awal lagi. Ia sepi nggak punya teman.

”Hei Mila” sapa seorang cewek di depannya.

”Rani?” Mila kaget dengan sosok yang menghampirinya.

”Boleh aku temani kami disini?” Mila hanya mengangguk. Ia merasa bersalah karena selama ini sudah meninggalkan Rani yang begitu baik kepadanya.

”Kenapa harus bohong sama Luna dan teman-teman, Mil?” Rani membuka pembicaraan dengan sebuah pertanyaan yang membuat Mila kaget.

”Aku hanya ingin punya banyak teman. Aku inginh diterima teman-teman”

”Tapi, Mil. Punya banyak teman bukan berarti kamu harus bohongi diri kamu dan teman-teman”

”Iya Ran. Sekarang aku ngerti seorang teman sejati akan menerima keadaan sahabatnya dalam kondisi apapun. Kamu masih mau kan jadi temanku, Ran?”

”So pasti Mil, aku akan setia jadi sobat kamu”

”Makasih Ran” Mila jadi terharu. Ia meneteskan air mata, kemudian rei datang menghampiri Mila dan Rani. Mila tahu kedatangan Rei pasti akan memutuskan dirinya.

”Bisa kita bicara sebentar Mil?” ajak Rei ke pojok kantin.

”Iya Rei”

Mila sudah mempersiapkan jawaban apa yang akan ia keluarkan nanti. Ia juga siap mental jika harus mengakhiri hubungannya dengan Rei.

”Mila, buat apa kamu bohong dengan status keluargamu? Jujur aku sangat kecewa” raut wajah Rei mengekspresikan kalau ia sangat marah dan kecewa pada Mila.

”Maaf Rei. Aku tahu aku salah. Aku Cuma ingin diterima oleh Luna dan teman-teman. Aku nggak pantas Rei buat kamu. Aku pun udah siap kalau kita putus, Rei” jawab Mila panjang lebar. Ia tak berani menatap wajah Rei karena ia sangat takut memandang wajah Rei seperti itu.

”Mila, apapun kamu dan keluarga kamu, aku nggak peduli. Karena aku sayang kamu apa adanya. Cinta bukan dipandang dari segi keluargamu berada. Aku akan selalu jadi cowok kamj, Mil. Nggak akan tinggalin kamu” Rei adalah cowok terbaik bagi Mila.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s