Best Teacher, Best Daddy


His name is Mohamad Setio Nugroho. He’s my Dad, although he’s not my real Dad, but I love him as my real Dad. So, I call him “Daddy”. (^_^). Aku mengenalnya saat aku di SMA. Tiga tahun lalu aku masih menjadi siswa baru di sekolah tersebut dan aku belum terlalu mengenalnya. Hanya sekedar tahu namanya dan yang mana orangnya. Ternyata, yes, you can see. He’s not tall, but he’s handsome (in my opinion J). Kemudian aku mengikuti ekstra jurnalistik. Dari sana aku mulai mengenal baik sosok yang aku panggil “Daddy”, karena Daddy menjadi Pembina ekstra jurnalistik. Intensitas kami untuk bertemu dan saling sharing menjadi lebih sering, karena aku dan teman-teman mempunyai gagasan untuk membuat sebuah bulletin yang kemudian diterbitkan menjadi majalah (my first and last magazine in that school)

Day by day, I met him everyday (sure, because I was a student and he was a teacher in Batik 1). Aku merasa nyambung jika mengobrol atau bertukar pikiran dengan Daddy. Walaupun dahulu Dad juga cukup menyebalkan (I’m sorry Dad) karena pada saat itu aku belum cukup dewasa untuk bisa berpikir positif tentang Dad. Ya, itulah Daddy. Sosok Dad yang seperti itu aku harus bisa terima. Kesibukan Dad yang teramat sangat aku harus memahami, dan kebiasaan-kebiasaan Dad aku harus maklum, karena aku bukan siapa-siapa yang berhak mengatur bagaimana Dad harus hidup. Aku hanya bisa membantu kalau Dad membutuhkan. Memberikan yang terbaik for My Best Daddy.

Oh ya, Dad itu juga pelupa lho. Banyak kejadian yang aku alami, seringnya waktu dulu saat kita masih kerja sama menyelesaikan majalah. Itu salah satu yang membuat aku sebel dan sering marah sama Dad (I’m sorry again, Dad). I’m proud of My Dad. He’s the favorite teacher in my school. Jarang sekali aku menjumpai ada siswa yang tidak menyukai Daddy, karena Daddy adalah sosok yang menyenangkan, murah senyum, suka bercanda, dan pasti murid-muridnya merasa betah kalau pelajaran ekonomi. Sayangnya, aku nggak pernah merasakan bagaimana kalau Daddy mengajar di kelasku.

Aku sering ngobrol sama Daddy, saling cerita dan mendengarkan cerita-cerita Dad. Kalau ketemu selalu ada obrolan yang menarik. One thing that you have to know, my Dad is very patient person. Sometimes, I thought I was guilty when I was mad of him, he never mad to me (maybe..). I could see from his face and whatever he said. Not angry, always smile. Oh God, once again I’m so sorry, Dad *with my innocent face*
what else? Yeah, I remember! Kalau baru sama Daddy pasti pulang dalam keadaan perut kenyang. Dijamin deh, karena aku sering dibeliin makan sama Daddy. Tapi bukan memaksa lho, aku jarang minta makan (^-^).

Daddy itu sibuk banget. Sesibuk sibuknya orang. Banyak banget yang harus diselesaikan dalam waktu yang sedikit. Kerjain ini itu, urusin sana sini, and sometimes if he needed a help, I helped him with a pleasure. Aku suka merasa kasihan juga kalau Daddy banyak tugas seperti itu, dan itu yang membuat aku untuk bisa lebih memaklumi aktivitas Daddy yang padat.

Okey, that’s about my Dad. There are so many stories about Dad and me, but not for today. Maybe next time I’ll write a lot of stories. See ya!

2 thoughts on “Best Teacher, Best Daddy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s